.

TIGACAHAYAUTAMA.COM – Pada akhir Februari 2020 lalu, Pemerintah Saudi memberlakukan penutupan ibadah umroh hingga batas waktu yang belum ditentukan dikarenakan pandemi Covid-19. Bagaimana dengan ibadah Haji? sesuai dengan keputusan Pemerintah RI bahwa Haji tahun 2020 dinayatakan untuk batal berangkat.

“Pihak Arab Saudi tak kunjung membuka akses bagi jemaah haji dari negara mana pun. Akibatnya, pemerintah tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah,” kata Menteri Agama Fachrul Razi dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (2/6/2020).

Jika kita membuka kembali catatan sejarah dengan timeframe puluhan tahun hingga ratusan tahun silam, tanah suci ternyata telah berulang kali ditutup dan ibadah haji turut ditiadakan. Dua penyebab utamanya adalah karena konflik perang dan wabah penyakit. Terakhir terjadi saat merebaknya penyakit meningitis tahun 1987 yang erat dikaitkan dengan jamaah haji ke tanah suci. Hingga kini lebih dari 30 tahun kemudian, calon jamaah tetap diharuskan suntik vaksin meningitis.

WHO dan pemerintah Indonesia akhir-akhir ini mulai mensosialisasikan situasi “New Normal”. Yakni sebuah keberlangsungan dan gaya hidup adaptasi baru yang harus kita terapkan agar dapat beraktifitas dan beribadah kembali dengan normal, tentunya dengan tetap menekan jumlah kasus terjangkit Covid-19. Setidaknya hingga vaksin berhasil ditemukan dan didistribusikan ke seluruh dunia. Apabila pemerintah Saudi tetap membuka pintu bagi jamaah Umroh untuk berkunjung sebelum vaksin didistribusikan, Kami mencoba memprediksi apa saja “New Normal” yang berlaku terhadap persiapan dan penyelenggaraan ibadah umroh ke tanah suci, diantaranya :

1. Biaya Umroh Bisa Meningkat Hingga 2x Lipat

Sterilisasi Pesawat

Struktur biaya paket umroh dapat dibagi menjadi 3 bagian: Transportasi pesawat (70% biaya), akomodasi (20% biaya), perlengkapan & jasa (10% biaya).  Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mulai memberlakukan peraturan agar pesawat tidak boleh diisi penuh, selain itu kemungkinan pemerintah Saudi juga akan melarang ketersediaan kamar Quad (sekamar berempat) yang selama ini paling laris di sekitar Masjidil Haram & Masjid Nabawi karena harganya lebih terjangkau. Dua variable ini saja berpotensi meningkatkan biaya paket umroh secara signifikan, belum lagi jika ada pembatasan transportasi bus lokal selama di sana, tambahan biaya cek kesehatan sebelum keberangkatan, dan lain sebagainya.

2. Penduduk Negara Tertentu Mendapat Larangan Berkunjung ke Tanah Suci

Suasana masjidil haram saat pandemi COVID19

Data kasus pasien terinveksi virus Covid-19 masih terus bertambah di banyak negara. Saat artikel ini ditulis, negara mayoritas berpenduduk muslim seperti Turki, Iran, India, Pakistan, Qatar bahkan Saudi Arabia sendiri, berada pada top-20 negara dengan kasus infeksi tertinggi.  Negara berpopulasi terbesar pertama (China), kedua (India), ketiga (Amerika) ada pada daftar top-20 tersebut. Semoga negara berpopulasi terbesar keempat (Indonesia) dapat terus menekan jumlah pertumbuhan kasus penderitanya.

3. Kuota Pembatasan Jumlah Jamaah Umroh Per Negara (Seperti Kuota Haji)

Kamar Quad (sekamar berempat) Jamaah Umroh

Apabila pemerintah Saudi memperbolehkan ibadah umroh terselenggara dengan tetap menekan penyebaran Covid-19 di negaranya, mungkin saja pemerintah Saudi membatasi jumlah tamu yang berkunjung dan menerapkan kuota sebagaimana kuota jamaah haji. Hal ini bertujuan agar Masjidil Haram tidak ramai dan pengawasan dapat dilakukan secara ketat.

4. Kemungkinan Pembatasan Berdasarkan Usia

Jamaah umroh Tiga Cahaya Utama

Pasien Covid-19 berusia lanjut memiliki resiko kematian (fatality rate) jauh lebih tinggi dibandingkan pasien berusia muda <40 tahun. Sementara ibadah umroh dan haji biasanya identik dengan jamaah berusia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir memang mulai banyak juga millennial travellers yang menjalankan ibadah umroh di usia muda. Namun konon mereka yang berusia muda ini juga yang lebih aktif bergerak dan tanpa disadari berperan sebagai perantara (carrier) dan lebih banyak menularkan virus kepada orang lain. Tidak menutup kemungkinan pada ibadah umroh akan dilakukan pelarangan, penyekatan atau pembatasan area berdasarkan usia.

5. Implementasi Physical Distancing dan Pengecekan Kesehatan Secara Masif

Uji Coba Disinfektan Otomatis di Masjidil Haram

Disinfektan otomatis telah dipasang dan diujicobakan di pintu-pintu masuk Masjidil Haram. Kemungkinan juga kedepannya akan ditempatkan petugas-petugas yang berjaga menggunakan thermo gun, serta memastikan setiap jamaah menggunakan masker dan mengoleskan hand sanitizer. Untuk memastikan physical distancing, kemungkinan pihak Saudi akan memasang pagar pembatas, memberlakukan jadwal tawaf, pembatasan jam berkunjung ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, serta sosialisasi physical distancing secara terus menerus.

Semoga wabah pandemi ini segera berlalu, dan kita semua bisa kembali beribadah dan pergi ke tanah suci seperti sedia kala. Aamin allahumma amin.